1. Untuk Mama:
"Surga ditelapak kaki ibu"
Aku percaya kepada ungkapan itu..
Suatu hari di tahun 1998
Berumur 4 tahun, mama mulai mengenalkanku pada seni musik. Piano, aku pertama kali mengenalnya.
Aku ingat ma, guru pertama itu bernama Bu Evie (Big hug and kiss bu! Orang pertama yang mengajari saya piano). Aku langsung tertarik dengan tuts hitam dan putih itu. Masih ingat lagu pertama yang diajarkan (Kalau tidak salah berjudul "Roti Panas", yang nadanya do re mi, do re mi, do do, re re, mi re do).
Walapun, kaki belum nyampek pedalnya. Mama tetap menyuruh les piano.
(Gpp deh ma) jawabku waktu itu
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih ingat tahun 2000, 13 tahun yang lalu..
Dengan gaun merah dan bando yang warna senada. Mama mengantar aku ke Surabaya untuk lomba fashion show. Kala itu aku masih berumur 5 tahun. Dari pagi hingga pagi lagi, mama setia menemaniku dimanapun berada. Pukul 4 pagi, diumumkan pemenang dari berbagai kategori.
Namaku pun dipanggil menuju panggung, aku keluar sebagai JUARA UMUM.
Itu semua, membuat mama bangga dan senyum menghiasi wajahnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari sebelum mama menghembuskan nafas terakhirnya..
Suatu sore, Juli 2010
Aku yang baru masuk SMA, melihat mama membersihkan tas-tasnya.
Terjadilah sebuah percakapan:
"Ma, kalau aku udah kerja. Mama, tak beliin tas LV ya ma, terserah mama mau model apa aja."
Mama hanya tersenyum :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kembali pada 3 tahun yang lalu. Tepatnya, tahun 2010, tanggal 08 Juli. Mama pergi meninggalkan papa, aku, dan adik untuk selamanya. Ya, Tuhan memanggilnya kembali.
Di saat itu, aku tidak bisa menerima kenyaatan. Bahwa mama telah berpulang. Berselang beberapa hari sejak kepergiaannya, aku selalu menangis. Ingat semua tentang mama. Kemarahan mama, senyum mama, foto mama, intinya semua tentang mama.
Perlahan, aku bisa ikhlas atas semuanya. Memang rencana Tuhan tidak ada yang mengerti.
Itulah sekeping cerita dari mama. Terimakasih ma! Mama yang sudah mendidik, menjaga (sampai rela tidak tidur, waktu aku sakit).
2. Untuk Papa:
Sudah 18 tahun aku berada di dunia ini. Saat ini, tersisa satu orang tua bagiku, yaitu papa. Papa yang menjadi semangatku dikala aku jenuh, papa yang rela melakukan apa saha untuk anak perempuan satu-satunya ini.
Papa, maaf ya. Aku tidak bisa membanggakan Papa karena aku memilih Bahasa buka IPA, jurusan pilihan Papa.
Pa, akhirnya papa mengizinkan aku masuk Bahasa. Aku tahu papa kecewa. Aku berusaha menunjukkan kemampuan terbaikku. Maaf pa, aku masih belum bisa membuat papa bangga. Maaf ya pa
Terima kasih pa, atas nasihat papa tentang semua hal. Terkadang itu hal membosankan, tetapi aku mengerti Pa! Apa maksud nasihat papa itu.
Terima kasih pa, terimakasih ma. Karena menunjukkan manis dan pahitnya dunia ini. Atas segalanya yang papa dan mama berikan sampai detik ini.
(Lagi kangen sama papa yang kerja di Balikpapan, dan mama yang sudah tenang di alam-Mu)
*Sedih-Mewek*