Sejak dulu aku tidak begitu yakin dengan keputusanku tentang hal ini.
Terkadang aku ragu untuk memutuskan sesuatu, terlebih untuk yang satu ini
Hal ini, yang terkadang membuatku senang bahkan juga membuatku merasa hampa, kosong.
bagaikan gelas yang tidak berisi padahal gelas gelas lain terisi penuh bahkan berulang-ulang terisi
Bisa dibilang ini hal terberat dalam aku menjalani hidup.
Hal itu disebut "kuliah"
Sejak 2 tahun yang lalu aku berstatus mahasiswi di Universitas Negeri X di Jawa Timur, jurusan **
Jurusan yang sejak aku mengenyam sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama selalu kucita citakan
Namun, sejak aku naik tinggat menjadi siswi sekolah menengah atas. Mimpiku yang sejak dulu kucita citakan sebagai Duta Besar mulai berubah.
Aku yang sejak saat itu tertarik dengan segala hal berbau bahasa asing dan kelak akan mengambil jurusan sastra di salah satu universitas negri. bahkan jursan musik khususnya piano
Tapi apa daya, aku saat ini "terdampar" di jursan yang tidak aku sukai. Dengan kata lain, aku terpaksa menjalami perkuliahan karena tidak ingin membuat orang tuaku yang tinggal hanya papa.
Aku sangat ingin tidak mengecewakan beliau didepan keluarga bahkan teman-teman kantor. Jika ditanya "Pak, anaknya kuliah dimana?" Kemudian papa menjawab "Di Univeristas Negeri X, jurusan **." dengan raut wajah bangga mengakatan bahwa aku kuliah di universitas negeri yang tidak mengecewakan.
Tapi itu semua dulu.
Saat papaku tahu bahwa aku tidak "suka" dengan jurusan kuliah ini.
Aku tahu papa kecewa, aku tahu papa marah karena hal ini.
Sejujurnya, aku tidak ingin mengecewakan beliau dengan hal tersebut,
Sebenarnya, sejak awal ketika aku ingin mengambil jurusan yang selanjutnya menentukan masa depanku kelak
Aku mau mengambil jurusan Sastra Korea ataupun Sastra Prancis atau tidak jurasan musik. Bahkan aku mau mengambil di CA atau Culinary Academy. Karena salah satu cita-citaku menjadi chef. Tapi untuk yang satu itu cuma selewat saja.
Tapi sekarang, karena sudah hopeless dengan "hal" itu.
Apa aku harus keluar dari jurusan ini? Dan memenuhi keinginan dan cita-citaku itu? Apa masih memungkinkan? Apa tidak terlambat? Tapi aku tahu, daripada aku tidak nyaman dan tidak suka denga jurusan ini. Lebih baik keluar sekarang, dan memikirkan apa yang akan aku lakukan kedepannya, Daripada papa membuang buang materi untuk hal yang percuma atau sia-sia.
Maafkan anak perempuan Papa satu-satunya ini. Karena tidak bisa memenuhi lagi keinginan Papa untuk tetap disitu.
Tapi ini masa depanku sendiri pa. Papa sudah sering bilang bahwa papa tidak bisa membantu apa-apa sekarang, Karena ini masa depanku sendiri, Harus aku yang meraihnya sendiri, bukan orang lain,
Sekali lagi maafkan anak perempuan satu-satunya papa ini. Maaf karena belum bisa membalas semua yang sudah papa lakukan.
Maafkan anak perempuan papa ini, Mungkin jalanku bukan di hal itu Pa. Bisa saja jalanku di tempat lain.
Ps: Aku menulis ini dengan airmata yang meleleh. Tujuanku menulis ini, karena sudah tidak tahu ingin berbicara kepada siapa. Lebih baik menulis saja. :)
Love,
"A"
No comments:
Post a Comment